Saya pernah bertanya kepada sekelompok remaja, “Siapakah model peran
kalian?” Seorang cewek bilang ibunya. Anak lain bilang kakaknya , dan
seterusnya. Ada satu anak yang diam saja. Maka sayapun bertanya, siapa
yang ia kagumi. Ia menjawab perlahan, “Saya tidak punya model peran”
Justru ia ingin memastikan diri tidak menjadi seperti orang-orang yang
seharusnya menjadi model perannya. Sayangnya , itulah yang banyak
dialami oleh remaja. Mereka berasal dari keluarga berantakan dan mungkin
tidak punya siapapun untuk dijadikan teladan.
Yang menakutkan adalah bahwa kebiasaan buruk seperti pelecehan, kecanduan alkohol, dan ketergantungan pada kesejahteraan sosial sering kali diturunkan dari orang tua dan akibatnya, keluarga-keluarga yang tidak berfungsi dengan baik terus terulang. Umpamanya, kalau kamu pernah dilecehkan ketika masih kanak-kanak, statistic menunjukkan bahwa rasanya kamu juga akan menjadi peleceh. Terkadang masalah ini terulang dari generasi ke generasi. Kamu mungkin memiliki garis keturunan pecandu narkoba. Mungkin kamu memiliki garis keturunan orang yang tergantung pada kesejahteraan sosial. Mungkin tak seorangpun dalam keluargamu yang lulus kuliah atau bahkan sekolah menengah.
Kabar baiknya adalah bahwa kamu bisa menghentikan lingkaran setan itu. Karena kamu proaktif, kamu bisa menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk ini sehingga tidak diteruskan ke generasi berikutnya. Kamu bisa menjadi “pelaku perubahan”, dan meneruskan kebiasaan-kebiasaan baik kepada generasi-generasi mendatang, mulai dari anak-anakmu sendiri.
Seorang cewek yang ulet bernama Hilda bercerita bagaimana ia telah menjadi pelaku perubahan dalam keluarganya. Pendidikan tidak pernah dihargai dalam keluarganya, dan Hilda bisa melihat akibat-akibatnya. Kata Hilda: “Ibu saya bekerja sebagai penjahit di pabrik, dengan upah sangat kecil, dan ayah saya bekerja dengan upah sedikit di atas upah minimum. Saya suka mendengar mereka bertengkar soal uang dan bagaimana mereka harus bayar uang sewa. Sekolah orang tua saya hanya sampai kelas enam”.
รจ “Apakah saya gagal atau sukses bukahlah hasil perbuatan orang lain. Sayalah yang menjadi pendorong diri sendiri”. ELAINE MAXWELL.
Ketika masih kecil, Hilda ingat sekali bagaimana Ayahnya tidak bisa membantunya mengerjakan PR karena tidak bisa baca bahasa Inggris. Hilda sungguh sulit menerima fakta itu.
Ketika Hilda SMP, keluarganya pindah dari California kembalike Mexico. Hilda segera sadar bahwa dia disana peluang pendidikannya sedikit, maka ia minta kembali ke Amerika Serikat untuk tinggal dengan bibinya. Selama beberapa tahun berikutnya Hilda banya berkorban demi sekolah.
“Sungguh berat berjejal dalam satu kamar dengan saudara sepupu saya”, katanya, “dan tidur seranjang dan bekerja untuk membayarkan sewa mereka selain sekolah, tetapi tidak sia-sia.
“Walaupun saya sudah menikah dan punya anak ketika sekolah menengah, saya terus sekolah dan berusaha menyelesaikan pendidikan saya. Saya ingin membuktikan kepada ayah saya bahwa ia keliru ketika mengatakan bahwa tak seorangpun dalam keluarga kami yang bisa jadi profesional”.
Hilda akan segera lulus dengan gelar universitas dalam bidang keuangan. Ia ingin nilai-nilai pendidikannya menurun kepada anak-anaknya: “sekarang ini, sebisa mungkin kalau tidak sedang sekolah, saya duduk di sofa dan membacakan suntuk putra saya. Saya mengajarkannya berbicara bahasa Inggris dan Spanyol. Saya berusaha menabung demi pendidikannya. Suatu hari nanti ia akan butuh bantuan saya dengan PR-nya, dan saya akan siap membantunya”.
Saya wawancarai remaja lain berusia enam belas tahun bernama Shane dari Midwest yang juga menjadi pelaku perubahan dalam keluarganya. Shane tinggal bersama orang tua dan dua saudara di bagian miskin kotanya yang disebut proyek perumahan. Walaupun orangtuanta tetap hidup bersama, mereka terus bertengkar dan saling menuduh berselingkuh. Ayahnya pengemudi truk dan tidak pernah ada di rumah. Ibunya menghisab ganja dengan adiknya yang berusia dua belas tahun. Kakaknya dua kali tidak naik kelas dan akhirnya putus sekolah. Shane sempat putus asa.
Persis ketika ia piker sudah tidak ada harapan lagi, ikut suatu kelas pengembangan karakter di sekolahnya (yang mengajarkan 7 kebiasaan), dan mulai melihat bahwa ada hal-hal yang dapat diperbuatnya untuk mengendalikan hidupnya dan menciptakan masa depan bagi dirinya sendiri.
Untungnya, kakek Shane-lah pemilik apartemen di atas apartemen keluarga Shane, sehingga Shane bisa pindah ke sana dengan sewa seratus dolar perbulan. Sekarang ia punya tempat sendiri dan dapat menjauhkan diri dari apapun dalam keluarganya dimana ia tidak mau melibatkan diri. Kata Shane: “Sekarang segalanya membaik bagi saya. Saya perlakukan diri saya dengan lebih baik dan juga menghormati diri sendiri. Keluarga saya tidak menghormati diri mereka sendiri. Walaupun tak satupun dalam keluarga saya yang kuliah, saya telah diterima di tiga universitas. Segala yang saya perbuat sekarang adalah demi masa depan saya. Masa depan saya harus beda. Saya tahu saya takkan duduk dengan putra saya yang berusia dua belas tahun dan menghisap ganja”.
Kamu punya kuasa untuk bangkit mengatasi apapun yang mungkin diturunkan kepada kamu. Kamu mungkin tidak leluasa pindah seperti Shane, tetapi kamu bisa pindah dalam benakmu. Seberapa parahpun keadaanmu, kamu bisa menjadi pelaku perubahan dan menciptakan hidup baru bagi dirimu sendiri dan aspapun yang mungkin terjadi kemudian.
MENGEMBANGKAN OTOT-OTOT PROAKTIFMU
Sajak berikut ini adalah rangkuman dari apa artinya bertanggung jawab atas hidup kita sendiri dan bagaimana seseorang bisa secara bertahap pindah dari cara berpikir reaktif menjadi proaktif.
OTOBIOGRAFI DALAM
LIMA BAB SINGKAT
Dicuplik dari There’s a Hole in My Sidewalk karya Portia Nelson.
I
Aku sedang jalan. Ada lubang yang dalam di tepinya. Aku terperosok. Aku tak berdaya. Itu bukan salahku. Lama sekali baru aku bisa keluar.
II
Aku sedang jalan di jalan yang sama. Ada lubang yang dalam di tepinya. Aku pura-pura tidak melihatnya. Lagi-lagi aku terperosok. Tidak kusangka aku berada di tempat yang sama lagi. Tapi itu bukan salahku. Masih saja lama sekali baru aku bisa keluar.
III Aku sedang jalan di jalan yang sama. Ada lubang yang dalam di tepinya. Aku lihat sih. Tetapi tetap saja aku terperosok. Sudah jadi kebiasaan. Sekarang mataku terbuka. Aku tahu di mana aku berada. Ini salahku. Akupun segera keluar.
IV
Aku sedang jalan di jalan yang sama. Ada lubang yang dalam di tepinya. Aku menghindari.
V
Aku jalan lewat jalan lain.
Kamupun bisa bertanggung jawab atas hidupmu dan menjauhkan diri dari lubang-lubang dengan melatih otot-otot proaktifmu. Ini adalah kebiasaan “terobosan” yang akan menyelamatkanmu lebih sering dari yang kamu bayangkan.
SIKAP “AKU BISA”
Bersikap proaktif sesungguhnya berarti dua hal. Pertama, kamu bertanggung jawab atas hidupmu sendiri. Kedua, kamu punya sikap “aku bisa”. Sikap “aku bisa” sangat berbeda dengan sikap “aku tidak bisa”. Lihat saja.
ORANG-ORANG DENGAN SIKAP “AKU BISA”
ORANG-ORANG DENGAN SIKAP “AKU TIDAK BISA”
Mengambil inisiatif untuk menjadikan segalanya terlaksana.
Menantikan sesuatu terjadi padanya.
Memikirkan solusi dan pilihan.
Mimikirkan masalah dan hambatannya.
Bertindak
Jadi korban.
Kalau kamu pikir bisa, dan kamu krestif serta ulet, takkan kamu sangka apa yang bisa kamu capai. Ketika kuliah, saya ingat diberi tahu bahwa untuk memenuhi syarat bahasa saya, saya “harus” mengikuti kelas yang tidak saya minati dan berarti bagi saya. Tetapi, bukannya mengikuti kelas itu, saya memutuskan untuk menciptakan kelas saya sendiri. Maka saya kumpulkan sekian banyak buku yang akan saya baca, serta tugas-tugas yang akan saya kerjakan, dan mencari guru yang akan mensponsori saya. Lalu saya mendatangi dekan fakultas dan mengajukan usulan saya. Ia terima usulan saya dan sayapun memenuhi syarat bahasa itu dengan mengikuti kursus buatan saya sendiri.
Penerbang Amerika, Elinor Smith, pernah berkata, “Telah lama saya perhatikan bahwa orang-orang berprestasi jarang duduk-duduk dan menantikan segalanya terjadi pada mereka. Mereka berbuat dan menjadikan segalanya terjadi”.
Itu benar sekali. Untuk mencapai sasaran dalam hidupmu, kamu harus mengambil inisiatif. Kalau kamu sedih tidak ada yang mengajak kencan, jangan duduk-duduk saja dan ngambek, lakukanlah sesuatu. Carilah cara-cara untuk bertemu orang. Bersahabatlah dan berusahalah untuk banyak tersenyum. Ajaklah mereka kencan. Mungkin mereka belum tahu betapa hebatnya kamu.
Jangan tunggu sampai pekerjaan sempurna itu jatuh ke pangkuanmu, kejarlah. Kirimkanlah surat lamaran, bangunlah jaringan, ajukanlah diri untuk bekerja cuma-cuma.
Kalau kamu sedang berada di toko dan perlu bantuan, jangan tungu pramuniaganya mencari kamu, carilah mereka.
Ada orang yang keliru menganggap sikap “aku bisa” sebagai sikap memaksa, agresif, atau tidak tahu malu. Keliru, sikap “aku bisa” itu berani, ulet, dan cerdik. Yang lain menganggap orang-orang dengan sikap “aku bisa” membuat aturan sendiri. Bukan begitu, orang-orang dengan sikap “aku bisa” itu kreatif, berani ambil resiko, dan sangat banyak akal.
Pia, seorang rekan rekerja saya, menceritakan kisah berikut ini. Walaupun kejadiannya sudah lama sekali, prinsip sikap “aku bisa”-nya sama:
Ketika itu saya jadi wartawan muda di sebuah kota besar di Eropa, bekerja penuh waktu sebagai wartawan United Press International. Saya belum berpengalaman dan selalu gugup kalau-kalau tidak memenuhi harapan korps pers yang tangguh serta wartawan pria yang lebih tua usianya. The Beatles akan mengadakan pertunjukan di kota itu, dan di luar dugaan, sayalah yang ditunjuk untuk meliput kisah mereka (editor saya tidak tahu betapa besarnya kelompok band ini). Merekalah yang paling jadi berita panas di Eropa ketika itu. Ratusan cewek pada pingsan hanya karena mereka hadir, dan saya malah ditugaskan meliput konferensi pers mereka.
Konferensi persnya seru dan saya senang berada disana, tetapi sadar bahwa semua orang akan punya kisah yang sama – saya perlu sesuatu yang lebih, sesuatu yang benar-benar layak jadi berita utama. Saya pokoknya tidak boleh melewatkan peluang yang satu ini. Satu per satu, semua wartawan berpengalaman pulang ke kantornya untuk melapor dan The Beatles pun kembali ke kamar mereka. Saya tinggal sendirian. Saya harus cari jalan untuk menemui cowok-cowok ini. Dan saya tidak boleh buang-buang waktu.
Saya berjalan menuju lobi hotel, mengangkat telepon internalnya, dan menghubungi kamar penthouse (di lantai tertinggi). Saya pikir mereka pasti menginap di sana. Manajer mereka yang menjawab; “Ini Pia Jensen dari United Press International. Saya ingin bicara dengan The Beatles”. Kata saya dengan penuh percaya diri (toh saya tak rugi apa-apa). Di luar dugaan saya, ia berkata “ayo naik”.
Gemetar dan merasa menang main jackpot, saya naik lift dan menuju ke kamar mewah di hotel tersebut. Saya diantar menuju ruangan yang sebesar seluruh lantai – dan di sanalah mereka duduk, Ringo, Paul, John, dan George.Saya tekan kegugupan saya dan ketidak-pengalaman saya, dan berusaha bersikap seperti wartawan kelas dunia.
Dua jam berikutnya saya lewatkan dengan tertawa, mendengarkan, berbicara, menulis, dan menikmati waktu terbaik seumur hidup saya. Mereka permalukan saya dengan baik serta memberikan perhatian penuh kepada saya!
Keesokan paginya, kisah saya dimuat di halaman depan surat kabar terkemuka di Negara itu. Dan wawancara panjang saya dengan masing-masing anggota The Beatles dimuat sebagai berita khusus di kebanyakan surat kabar di seluruh dunia beberapa hari berikutnya. Ketika Rolling Stones dating ke kota itu setelahnya – coba tebak siapa yang mereka utus? Sayalah, wartawan wanita yang masih muda, yang belum pengalaman. Saya gunakan pendekatan yang sama terhadap mereka dan lagi-lagi berhasil. Saya segera sadar akan apa yang bisa saya capai dengan bersikap ulet secara ramah. Maka terbentuklah suatu pola dalam benak saya, dan saya yakin apapun jadi mungkin. Dengan pendekatan ini, biasanya saya mendapatkan kisah terbaik, dan karir sayapun berkembang.
George Benard Shaw, penulis drama Inggris, sangat menyedari pentingnya sikap “aku bisa”. Katanya: “Orang selalu menyalahkan keadaan. Saya sih tidak percaya kepada keadaan. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang-orang yang bangkit dan mencari keadaan-keadaan yang mereka inginkan, dan kalau tidak bertemu, menciptakan keadaan-keadaan tersebut”.
Perhatikanlah bagaimana Denise selalu dapat menciptakan keadaan yang ia inginkan:
Saya tahu aneh rasanya kalau memang remaja ingin bekerja di perpustakaan, tetapi saya sungguh menginginkan pekerjaan itu – lebih dari apapun, tetapi mereka tidak sedang membuka lowongan kerja. Saya suka dating ke perpustakaan setiap hari dan membaca, berlama-lama di sana sama teman-teman, dan pokoknya tidak di rumah – tempat mana lagi yang lebih baik dari pada tempat di mana saya sudah biasa berlama-lama? Walaupun saya tidak punya pekerjaan di sana, saya jadi kenal dengan para stafnya, dan saya suka menawarkan diri untuk acara-acara khusus, dan tidak lama kemudian, saya menjadi salah seorang sukarelawan di sana. Ternyata tidak percuma. Ketika akhirnya mereka buka lowongan, sayalah yang pertama-tama mereka pilih, dan itu adalah pekerjaan terbaik yang pernah saya miliki.
ENGLISH STUDY CLUB
Yang menakutkan adalah bahwa kebiasaan buruk seperti pelecehan, kecanduan alkohol, dan ketergantungan pada kesejahteraan sosial sering kali diturunkan dari orang tua dan akibatnya, keluarga-keluarga yang tidak berfungsi dengan baik terus terulang. Umpamanya, kalau kamu pernah dilecehkan ketika masih kanak-kanak, statistic menunjukkan bahwa rasanya kamu juga akan menjadi peleceh. Terkadang masalah ini terulang dari generasi ke generasi. Kamu mungkin memiliki garis keturunan pecandu narkoba. Mungkin kamu memiliki garis keturunan orang yang tergantung pada kesejahteraan sosial. Mungkin tak seorangpun dalam keluargamu yang lulus kuliah atau bahkan sekolah menengah.
Kabar baiknya adalah bahwa kamu bisa menghentikan lingkaran setan itu. Karena kamu proaktif, kamu bisa menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk ini sehingga tidak diteruskan ke generasi berikutnya. Kamu bisa menjadi “pelaku perubahan”, dan meneruskan kebiasaan-kebiasaan baik kepada generasi-generasi mendatang, mulai dari anak-anakmu sendiri.
Seorang cewek yang ulet bernama Hilda bercerita bagaimana ia telah menjadi pelaku perubahan dalam keluarganya. Pendidikan tidak pernah dihargai dalam keluarganya, dan Hilda bisa melihat akibat-akibatnya. Kata Hilda: “Ibu saya bekerja sebagai penjahit di pabrik, dengan upah sangat kecil, dan ayah saya bekerja dengan upah sedikit di atas upah minimum. Saya suka mendengar mereka bertengkar soal uang dan bagaimana mereka harus bayar uang sewa. Sekolah orang tua saya hanya sampai kelas enam”.
รจ “Apakah saya gagal atau sukses bukahlah hasil perbuatan orang lain. Sayalah yang menjadi pendorong diri sendiri”. ELAINE MAXWELL.
Ketika masih kecil, Hilda ingat sekali bagaimana Ayahnya tidak bisa membantunya mengerjakan PR karena tidak bisa baca bahasa Inggris. Hilda sungguh sulit menerima fakta itu.
Ketika Hilda SMP, keluarganya pindah dari California kembalike Mexico. Hilda segera sadar bahwa dia disana peluang pendidikannya sedikit, maka ia minta kembali ke Amerika Serikat untuk tinggal dengan bibinya. Selama beberapa tahun berikutnya Hilda banya berkorban demi sekolah.
“Sungguh berat berjejal dalam satu kamar dengan saudara sepupu saya”, katanya, “dan tidur seranjang dan bekerja untuk membayarkan sewa mereka selain sekolah, tetapi tidak sia-sia.
“Walaupun saya sudah menikah dan punya anak ketika sekolah menengah, saya terus sekolah dan berusaha menyelesaikan pendidikan saya. Saya ingin membuktikan kepada ayah saya bahwa ia keliru ketika mengatakan bahwa tak seorangpun dalam keluarga kami yang bisa jadi profesional”.
Hilda akan segera lulus dengan gelar universitas dalam bidang keuangan. Ia ingin nilai-nilai pendidikannya menurun kepada anak-anaknya: “sekarang ini, sebisa mungkin kalau tidak sedang sekolah, saya duduk di sofa dan membacakan suntuk putra saya. Saya mengajarkannya berbicara bahasa Inggris dan Spanyol. Saya berusaha menabung demi pendidikannya. Suatu hari nanti ia akan butuh bantuan saya dengan PR-nya, dan saya akan siap membantunya”.
Saya wawancarai remaja lain berusia enam belas tahun bernama Shane dari Midwest yang juga menjadi pelaku perubahan dalam keluarganya. Shane tinggal bersama orang tua dan dua saudara di bagian miskin kotanya yang disebut proyek perumahan. Walaupun orangtuanta tetap hidup bersama, mereka terus bertengkar dan saling menuduh berselingkuh. Ayahnya pengemudi truk dan tidak pernah ada di rumah. Ibunya menghisab ganja dengan adiknya yang berusia dua belas tahun. Kakaknya dua kali tidak naik kelas dan akhirnya putus sekolah. Shane sempat putus asa.
Persis ketika ia piker sudah tidak ada harapan lagi, ikut suatu kelas pengembangan karakter di sekolahnya (yang mengajarkan 7 kebiasaan), dan mulai melihat bahwa ada hal-hal yang dapat diperbuatnya untuk mengendalikan hidupnya dan menciptakan masa depan bagi dirinya sendiri.
Untungnya, kakek Shane-lah pemilik apartemen di atas apartemen keluarga Shane, sehingga Shane bisa pindah ke sana dengan sewa seratus dolar perbulan. Sekarang ia punya tempat sendiri dan dapat menjauhkan diri dari apapun dalam keluarganya dimana ia tidak mau melibatkan diri. Kata Shane: “Sekarang segalanya membaik bagi saya. Saya perlakukan diri saya dengan lebih baik dan juga menghormati diri sendiri. Keluarga saya tidak menghormati diri mereka sendiri. Walaupun tak satupun dalam keluarga saya yang kuliah, saya telah diterima di tiga universitas. Segala yang saya perbuat sekarang adalah demi masa depan saya. Masa depan saya harus beda. Saya tahu saya takkan duduk dengan putra saya yang berusia dua belas tahun dan menghisap ganja”.
Kamu punya kuasa untuk bangkit mengatasi apapun yang mungkin diturunkan kepada kamu. Kamu mungkin tidak leluasa pindah seperti Shane, tetapi kamu bisa pindah dalam benakmu. Seberapa parahpun keadaanmu, kamu bisa menjadi pelaku perubahan dan menciptakan hidup baru bagi dirimu sendiri dan aspapun yang mungkin terjadi kemudian.
MENGEMBANGKAN OTOT-OTOT PROAKTIFMU
Sajak berikut ini adalah rangkuman dari apa artinya bertanggung jawab atas hidup kita sendiri dan bagaimana seseorang bisa secara bertahap pindah dari cara berpikir reaktif menjadi proaktif.
OTOBIOGRAFI DALAM
LIMA BAB SINGKAT
Dicuplik dari There’s a Hole in My Sidewalk karya Portia Nelson.
I
Aku sedang jalan. Ada lubang yang dalam di tepinya. Aku terperosok. Aku tak berdaya. Itu bukan salahku. Lama sekali baru aku bisa keluar.
II
Aku sedang jalan di jalan yang sama. Ada lubang yang dalam di tepinya. Aku pura-pura tidak melihatnya. Lagi-lagi aku terperosok. Tidak kusangka aku berada di tempat yang sama lagi. Tapi itu bukan salahku. Masih saja lama sekali baru aku bisa keluar.
III Aku sedang jalan di jalan yang sama. Ada lubang yang dalam di tepinya. Aku lihat sih. Tetapi tetap saja aku terperosok. Sudah jadi kebiasaan. Sekarang mataku terbuka. Aku tahu di mana aku berada. Ini salahku. Akupun segera keluar.
IV
Aku sedang jalan di jalan yang sama. Ada lubang yang dalam di tepinya. Aku menghindari.
V
Aku jalan lewat jalan lain.
Kamupun bisa bertanggung jawab atas hidupmu dan menjauhkan diri dari lubang-lubang dengan melatih otot-otot proaktifmu. Ini adalah kebiasaan “terobosan” yang akan menyelamatkanmu lebih sering dari yang kamu bayangkan.
SIKAP “AKU BISA”
Bersikap proaktif sesungguhnya berarti dua hal. Pertama, kamu bertanggung jawab atas hidupmu sendiri. Kedua, kamu punya sikap “aku bisa”. Sikap “aku bisa” sangat berbeda dengan sikap “aku tidak bisa”. Lihat saja.
ORANG-ORANG DENGAN SIKAP “AKU BISA”
ORANG-ORANG DENGAN SIKAP “AKU TIDAK BISA”
Mengambil inisiatif untuk menjadikan segalanya terlaksana.
Menantikan sesuatu terjadi padanya.
Memikirkan solusi dan pilihan.
Mimikirkan masalah dan hambatannya.
Bertindak
Jadi korban.
Kalau kamu pikir bisa, dan kamu krestif serta ulet, takkan kamu sangka apa yang bisa kamu capai. Ketika kuliah, saya ingat diberi tahu bahwa untuk memenuhi syarat bahasa saya, saya “harus” mengikuti kelas yang tidak saya minati dan berarti bagi saya. Tetapi, bukannya mengikuti kelas itu, saya memutuskan untuk menciptakan kelas saya sendiri. Maka saya kumpulkan sekian banyak buku yang akan saya baca, serta tugas-tugas yang akan saya kerjakan, dan mencari guru yang akan mensponsori saya. Lalu saya mendatangi dekan fakultas dan mengajukan usulan saya. Ia terima usulan saya dan sayapun memenuhi syarat bahasa itu dengan mengikuti kursus buatan saya sendiri.
Penerbang Amerika, Elinor Smith, pernah berkata, “Telah lama saya perhatikan bahwa orang-orang berprestasi jarang duduk-duduk dan menantikan segalanya terjadi pada mereka. Mereka berbuat dan menjadikan segalanya terjadi”.
Itu benar sekali. Untuk mencapai sasaran dalam hidupmu, kamu harus mengambil inisiatif. Kalau kamu sedih tidak ada yang mengajak kencan, jangan duduk-duduk saja dan ngambek, lakukanlah sesuatu. Carilah cara-cara untuk bertemu orang. Bersahabatlah dan berusahalah untuk banyak tersenyum. Ajaklah mereka kencan. Mungkin mereka belum tahu betapa hebatnya kamu.
Jangan tunggu sampai pekerjaan sempurna itu jatuh ke pangkuanmu, kejarlah. Kirimkanlah surat lamaran, bangunlah jaringan, ajukanlah diri untuk bekerja cuma-cuma.
Kalau kamu sedang berada di toko dan perlu bantuan, jangan tungu pramuniaganya mencari kamu, carilah mereka.
Ada orang yang keliru menganggap sikap “aku bisa” sebagai sikap memaksa, agresif, atau tidak tahu malu. Keliru, sikap “aku bisa” itu berani, ulet, dan cerdik. Yang lain menganggap orang-orang dengan sikap “aku bisa” membuat aturan sendiri. Bukan begitu, orang-orang dengan sikap “aku bisa” itu kreatif, berani ambil resiko, dan sangat banyak akal.
Pia, seorang rekan rekerja saya, menceritakan kisah berikut ini. Walaupun kejadiannya sudah lama sekali, prinsip sikap “aku bisa”-nya sama:
Ketika itu saya jadi wartawan muda di sebuah kota besar di Eropa, bekerja penuh waktu sebagai wartawan United Press International. Saya belum berpengalaman dan selalu gugup kalau-kalau tidak memenuhi harapan korps pers yang tangguh serta wartawan pria yang lebih tua usianya. The Beatles akan mengadakan pertunjukan di kota itu, dan di luar dugaan, sayalah yang ditunjuk untuk meliput kisah mereka (editor saya tidak tahu betapa besarnya kelompok band ini). Merekalah yang paling jadi berita panas di Eropa ketika itu. Ratusan cewek pada pingsan hanya karena mereka hadir, dan saya malah ditugaskan meliput konferensi pers mereka.
Konferensi persnya seru dan saya senang berada disana, tetapi sadar bahwa semua orang akan punya kisah yang sama – saya perlu sesuatu yang lebih, sesuatu yang benar-benar layak jadi berita utama. Saya pokoknya tidak boleh melewatkan peluang yang satu ini. Satu per satu, semua wartawan berpengalaman pulang ke kantornya untuk melapor dan The Beatles pun kembali ke kamar mereka. Saya tinggal sendirian. Saya harus cari jalan untuk menemui cowok-cowok ini. Dan saya tidak boleh buang-buang waktu.
Saya berjalan menuju lobi hotel, mengangkat telepon internalnya, dan menghubungi kamar penthouse (di lantai tertinggi). Saya pikir mereka pasti menginap di sana. Manajer mereka yang menjawab; “Ini Pia Jensen dari United Press International. Saya ingin bicara dengan The Beatles”. Kata saya dengan penuh percaya diri (toh saya tak rugi apa-apa). Di luar dugaan saya, ia berkata “ayo naik”.
Gemetar dan merasa menang main jackpot, saya naik lift dan menuju ke kamar mewah di hotel tersebut. Saya diantar menuju ruangan yang sebesar seluruh lantai – dan di sanalah mereka duduk, Ringo, Paul, John, dan George.Saya tekan kegugupan saya dan ketidak-pengalaman saya, dan berusaha bersikap seperti wartawan kelas dunia.
Dua jam berikutnya saya lewatkan dengan tertawa, mendengarkan, berbicara, menulis, dan menikmati waktu terbaik seumur hidup saya. Mereka permalukan saya dengan baik serta memberikan perhatian penuh kepada saya!
Keesokan paginya, kisah saya dimuat di halaman depan surat kabar terkemuka di Negara itu. Dan wawancara panjang saya dengan masing-masing anggota The Beatles dimuat sebagai berita khusus di kebanyakan surat kabar di seluruh dunia beberapa hari berikutnya. Ketika Rolling Stones dating ke kota itu setelahnya – coba tebak siapa yang mereka utus? Sayalah, wartawan wanita yang masih muda, yang belum pengalaman. Saya gunakan pendekatan yang sama terhadap mereka dan lagi-lagi berhasil. Saya segera sadar akan apa yang bisa saya capai dengan bersikap ulet secara ramah. Maka terbentuklah suatu pola dalam benak saya, dan saya yakin apapun jadi mungkin. Dengan pendekatan ini, biasanya saya mendapatkan kisah terbaik, dan karir sayapun berkembang.
George Benard Shaw, penulis drama Inggris, sangat menyedari pentingnya sikap “aku bisa”. Katanya: “Orang selalu menyalahkan keadaan. Saya sih tidak percaya kepada keadaan. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang-orang yang bangkit dan mencari keadaan-keadaan yang mereka inginkan, dan kalau tidak bertemu, menciptakan keadaan-keadaan tersebut”.
Perhatikanlah bagaimana Denise selalu dapat menciptakan keadaan yang ia inginkan:
Saya tahu aneh rasanya kalau memang remaja ingin bekerja di perpustakaan, tetapi saya sungguh menginginkan pekerjaan itu – lebih dari apapun, tetapi mereka tidak sedang membuka lowongan kerja. Saya suka dating ke perpustakaan setiap hari dan membaca, berlama-lama di sana sama teman-teman, dan pokoknya tidak di rumah – tempat mana lagi yang lebih baik dari pada tempat di mana saya sudah biasa berlama-lama? Walaupun saya tidak punya pekerjaan di sana, saya jadi kenal dengan para stafnya, dan saya suka menawarkan diri untuk acara-acara khusus, dan tidak lama kemudian, saya menjadi salah seorang sukarelawan di sana. Ternyata tidak percuma. Ketika akhirnya mereka buka lowongan, sayalah yang pertama-tama mereka pilih, dan itu adalah pekerjaan terbaik yang pernah saya miliki.
ENGLISH STUDY CLUB
